Petani Milenial Asal Kutim Inovatif, Kelola Pupuk Organik Dapat Penghargaan Dari Kementan
Kutim– Seorang petani milenial asal Kutai Timur (Kutim) kini telah menorehkan sejarah di kancah nasional. Muhammad Zainal merupakan petani milenial yang inovatif, berkat karyanya mengelola pupuk organik hingga dapat penghargaan dari Kementerian Pertanian (Kementan).
“Alhamdulillah kami mengelola pupuk organik padat, cair dan agensi hayati. Jadi semua yang ada di alam itu kita manfaatkan untuk membuat pupuk,” sebut Zainal.
Hal itu agar dapat mengantikan pupuk kimia yang saat ini selalu dipakai petani holtikoltura. Pengembangan pupuk organik pun sejalan dengan program Dinas Pertanian (Distan) Kutim.
Disebutkan pengolahan pupuk organik berasal dari limbah pertanian dan perternakan yang telah di fermentasi hingga telah dilakukan uji laboratorium.
Hingga terbukti pupuk organiknya memiliki kandungan tiga unsur hara makro, yaitu Nitrogen (N) Fosfor (P) dan Kalium (K) yang memenuhi syarat perkembangan untuk pertanian, khususnya tanaman holtikultura yakni sayur-sayuran.
“Jadi olahan pupuk ini juga sebagai solusi dalam pertanian holtikultura ditengah terbatasnya pupuk subsidi,” sebutnya.
Sehingga para petani sayuran masih dapat bergairah untuk menanam. Pihaknya mengajak para kaum milenial agar bisa terjun bertani.
“Intinya semua olahan pupuk telah memberi manfaat dan meningkatkan produktivitas pertanian. Sebagian petani yang ada di Kaliorang sudah menggunakan pupuk organik,” sebutnya.
Diakui, pihaknya tengah melakukan pelatihan bagi para petani sekitar Kaliorang untuk mengembangkan produk inovasinya tersebut.
“Sudah pernah ada pelatihan pembuatan pupuk organik ini. Jadi bisa memanfaatkan apa yang ada di alam dan dapat mengurangi biaya produksi,” bebernya.
Terkait, penghargaan yang telah diraih ini dipersembahkan untuk seluruh petani khususnya di Kutim. Dia berharap ke depan dapat terus memberikan inovasi dan karya lainnya untuk bangsa.
Ia merupakan alumni di Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim kini ilmunya sangat bermanfaat bagi kaum petani.
Pasalnya, dapat merealisasikan pengetahuan yang didapat selama menimba ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.
“Kebetulan dulu saya mengambil jurusan Agroteknologi. Begitu lulus saya terjun langsung untuk bertani,” tukasnya. (adv/kls))